Pengurus Liu setelah memberikan ke Yun Qing, hanya tersenyum sebelum meninggalkan mereka. Sementara itu, Lynx yang awalnya khawatir Pengurus Liu melakukan sesuatu yang aneh, menggunakan mata tembus pandangnya untuk melihat apa yang dilakukan di bawah meja. Setelah melihat enam koin perak, Lynx tersenyum.

"Pengurus Liu memang orang yang sangat bijak dan perhatian," batin Lynx. Ia mencoba mengingat, tetapi tidak pernah ada interaksi sebelumnya dengan Pengurus Liu.

Berbeda dengan Lynx, Pengurus Liu mengetahui kisah Xiao Lin dan Yun Qing. Dia adalah teman lama Nyonya Yun, namun karena memiliki kesulitan tersendiri, mereka sudah lama tidak berkomunikasi. Saat kematian nyonya Yun, Pengurus Liu merasa sangat bersedih, tetapi merasa tidak enak hati untuk mendatangi Yun Qing. Ketika melihat mereka datang, ia tanpa segan membantunya.

Jelita, meski kebingungan, merasa senang karena bisa membayar makanan di depannya. "Aku harus membalas kebaikan Pengurus Liu. Tapi aku tidak tahu apakah koin ini cukup untuk membayar makanan. Aku baru kali ini memegang uang koin perak," batinnya.

"Yun Qing, makanlah," kata Lynx, mengambilkan beberapa makanan untuk dicoba Yun Qing.

Melihat makanan sudah diambilkan Lynx, Jelita segera memakannya. Di gigitan pertama, dia merasa tubuhnya seperti melayang. Kenikmatan masakan di depannya benar-benar berbeda, bumbu masakannya sangat meresap dan terasa memanjakan lidah, seumur hidupnya, dia belum pernah merasakan makanan seenak itu.

Tanpa disadari, dia memakan dengan lahap. Lynx selalu membantunya mengambilkan makanan, sehingga Jelita tak sadar telah menghabiskan banyak hidangan tersebut. Lynx pun tak mau kalah dan ikut menikmati makanan yang melimpah.

Porsi makanan yang mereka pesan lebih dari cukup untuk berdua, membuat mereka bisa sepuasnya memanjakan lidah.

"Hei, lihat mereka, seperti orang tidak makan bertahun-tahun," kata seorang pembeli dengan nada sinis.

"Tapi lihat mereka pesan makanan sangat banyak. Apakah mereka sanggup membayarnya?" tanya yang lainnya dengan penasaran.

"Kita lihat saja, pasti ada tontonan menarik setelah ini," sahut pembeli lain lagi.

Tanpa terasa, Lynx dan Jelita menghabiskan banyak makanan. Tak lama kemudian, pelayan yang sebelumnya datang lagi dengan wajah galak.

"Kalian sudah selesai makan, bukan? Sekarang kalian harus bayar!" seru pelayan tersebut, menatap mereka tajam.

"Liang Wei, biarkan mereka menyelesaikan makannya dulu. Hormati tamu," tegur Pengurus Liu dengan tegas.

Pelayan tersebut, Liang Wei, membalikkan badannya dan melihat Pengurus Liu datang bersama Tuan Zhen. "Baik, Pengurus Liu. Saya hanya takut mereka melarikan diri," jawabnya, sedikit ragu.

Jelita yang mendengar kata-kata pelayan itu segera berbisik kepada Lynx, "Xiao Lin, coba kamu lihat ini, apakah cukup untuk membayar makanan itu?" Ia menyodorkan kantung yang diberikan Pengurus Liu kepada Lynx.

Lynx mengambilnya sejenak, lalu mengembalikannya ke Jelita. "Kembalikan ke pemiliknya. Aku akan membuat pelayan sombong itu terkena batunya sekarang."

Tidak ingin berlama-lama karena sudah kenyang, Lynx segera mengeluarkan belasan koin perak di atas meja dari balik pakaiannya. Sebelum pelayan itu datang, Lynx sudah menyimpan beberapa koin perak dan emas di balik pakaiannya agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Bukankah kamu bilang akan membayar makanan kami jika aku bisa mengeluarkan uang untuk membayar? Sekarang kamu bayarlah," kata Lynx sambil tertawa.

Wajah pelayan itu segera merah padam, tidak percaya bahwa Xiao Lin mampu mengeluarkan uang sebanyak itu. "Kamu pasti mencurinya!" tuduhnya.

"Kalau tidak ada bukti, jangan asal tuduh," balas Lynx dengan tegas, lalu memandang Pengurus Liu yang tampak kaget, dan Tuan Zhen yang tertegun. "Terima kasih banyak untuk makanannya. Dan Pengurus Liu, terima kasih karena sudah bersedia mempercayai kami. Mohon terimalah ini sebagai tanda terima kasih kami," kata Lynx sambil tersenyum lalu meminta Jelita memberikan kantung tersebut kepada pengurus Liu.

Tanpa diketahui siapapun, Lynx sudah menambahkan sepuluh koin emas ke dalam kantong tersebut saat Jelita memperlihatkannya sebelumnya.

Pengurus Liu yang tersadar dari kagetnya segera memeriksa kantung yang diberikan, dia mengenali kantung tersebut, namun beratnya terasa berbeda. Saat ia memeriksanya, ternyata sudah bertambah dengan beberapa koin emas. Matanya melebar dan terkejut.

Bos Zhen dan Liang Wei hanya diam memandang koin emas di tangan Pengurus Liu, suasana hening menambah ketegangan.

"Liang Wei, ini pelajaran untukmu agar selalu menghormati tamu. Aku tidak akan menghukummu, tetapi kamu harus membayar semua makanan itu seperti taruhan kalian. Dan aku tidak mau menerima alasan apapun, karena aku mendengar sendiri, kamu yang memulainya," kata Zhen Huan dengan tegas sebelum berbalik pergi kembali ke kamarnya.

Sementara itu, Pengurus Liu yang tersadar segera mencari Yun Qing, tetapi ia sudah tidak ditemukan. Kepanikan mulai menyelimuti hatinya, memikirkan keadaan gadis muda itu.

Di sudut lain, pemuda asing yang selalu memandangi Jelita kini telah menghilang bersamaan dengan perginya Jelita, meninggalkan satu koin perak yang tergeletak di meja. Koin itu bersinar di bawah cahaya lampu, menambah misteri tentang kehadiran dan niat pemuda tersebut.

Di perjalanan, Jelita tidak dapat menahan rasa penasarannya. "Xiao Lin, darimana koin perak sebanyak itu? Apakah itu dari cincin penyimpananmu juga?" tebaknya dengan antusias.

"Aku sudah memilikinya sejak lama, tapi kamu tahu sendiri, aku tidak mengingatnya," kata Lynx sambil tertawa, mencoba mengalihkan perhatian dari pertanyaan Jelita yang menggelitik rasa ingin tahunya.

Sepanjang perjalanan, Lynx membelikan berbagai jenis makanan dan pakaian untuk Jelita. Lambat laun, pemikirannya tentang dunia ini pun berubah. "Ternyata jika punya banyak uang, hidup di dunia ini sangat menyenangkan. Berbeda terbalik jika tidak memilikinya," pikir Jelita, mengenang kejadian pahit yang dialaminya selama ini.

Setibanya di pasar, Lynx memberi Jelita sekantung koin emas. "Xiao Lin, untuk apa ini? Terlalu banyak untukku," kata Jelita, terkejut.

"Yun Qing, ingatanku sudah pulih sekarang. Tidak ada alasan untukku menunda perjalanan menemukan anggota suku Surya lainnya," kata Lynx dengan nada serius, menegaskan keputusannya.

"Jika kamu ingin menetap di sini, uang itu bisa kamu gunakan. Tapi jika ikut denganku, kamu bisa membagi koin emas itu kepada orang-orang yang sudah membantu kita selama ini," lanjut Lynx, memberikan Jelita pilihan.

Mendengar itu, Jelita terdiam sejenak. "Aku sudah lama menantikan hal ini, dan berharap bisa segera menemukan ayah dan yang lainnya. Tapi meninggalkan tempat ini juga terasa menyedihkan. Banyak kenangan di tempat ini," batinnya, "tapi kenapa kepala suku berkata seperti itu, seolah dia akan meninggalkanku kapan saja."

Jelita menatap Lynx dengan mata berkaca-kaca, suaranya gemetar saat ia bertanya, "Kenapa Kepala Suku tega bertanya seperti itu? Tiga tahun aku merawatmu, berharap suatu hari kamu akan pulih dan mengajakku mencari ayahku, keluargaku, dan yang lainnya. Apakah kamu benar-benar ragu aku akan ikut denganmu?"

Lynx terdiam sesaat sebelum tersenyum lembut. "Aku tidak pernah meragukanmu, Jelita. Aku tahu kamu akan ikut, tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu. Aku ingin memastikan bahwa ini benar-benar keputusanmu, bukan hanya karena perasaan tanggung jawab," jawab Lynx dengan suara tenang, tatapannya tulus.

Mendengar itu, wajah Jelita berubah cerah. Ia tersenyum lebar, lalu dengan penuh semangat berkata, "Tentu saja aku ikut! Aku sudah lama menunggu saat ini. Kita harus segera menemukan mereka, Xiao Lin!"

Lynx mengangguk, merasa lega mendengar jawaban Jelita. "Kalau begitu, bagikan koin emas ini kepada orang-orang yang sudah membantu kita selama ini. Mereka layak menerimanya," katanya sambil menyerahkan kantung koin emas kepada Jelita.

Jelita mengangguk dan segera pergi berpamitan kepada penduduk desa yang selama ini membantunya. Tidak banyak yang benar-benar membantu, tetapi beberapa penduduk yang tulus memberikan bantuan kecil selama tiga tahun terakhir menerima koin emas itu dengan rasa terkejut dan terima kasih mendalam. Koin emas bukan sesuatu yang bisa mereka miliki dengan mudah.

"Yun Qing, darimana uang ini berasal? kami bukan ingin mencurigaimu, tapi selama ini kami melihat kalian sangat kesulitan keuangan?" kata seorang bapak tua penjual daging, dia termasuk salah satu orang yang sering membantu Jelita dan Lynx, dengan sengaja membeli tanaman herbal yang dijual.

